FacebookTwitterGoogle+EmailWhatsAppShare

Radio Malowopati

Oleh : Fajri Siregar, Mona Luthfina Usmani, Larastri Kumaralalita, Halida Nufaisa and Dinita Andriani Putri –

Di Bojonegoro, radio merupakan salah satu media komunikasi yang populer di kalangan masyarakat di usia menengah, terutama bagi penduduk di area-area terpencil. Radio dapat dikatakan masih sangat popular bahkan ketika populasi Bojonegoro yang sebenarnya relatif baik dalam hal keterhubungan dengan internet dan teknologi informasi dan komunikasi secara umum. Dari survey yang kami lakukan, 60,8% dari responden sudah terhubung dengan layanan internet, 52,2% menggunakan smartphone, dan 28% memiliki/menggunakan komputer atau laptop dan / atau perangkat tablet.

 

CIPG (2)

1.1 Tingkat kesadaran publik terhadap kanal-kanal pengelolaan keluhan publik di Bojonegoro

 

Namun ketika ditanya tentang pengetahuan mereka tentang LAPOR!, mayoritas responden warga di wilayah tersebut tidak menyadari atau mengetahui mengenai platform tersebut. Mereka lebih sadar dan familiar dengan acara radio melalui Radio Malowapati. Padahal dari data yang tersedia, aplikasi LAPOR! merupakan instrumen utama yang digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mengelola keluhan publik. Apalagi, dari segi profesi dan kelas sosial ekonomi, penduduk yang berprofesi sebagai wiraswasta (24,7%) adalah kelompok pengguna terbesar LAPOR! di Bojonegoro, diikuti kelompok petani dan nelayan (21,5%) dan pekerja lepas (9,7%). Ini artinya penetrasi penggunaan lapor sebenarnya sangat dalam di Bojonegoro.

Namun bagaimana mungkin penetrasi yang dalam itu ternyata tidak menjadikan LAPOR! sebagai instrumen yang popular dan bahkan masih kalah popularitas ketimbang Radio Malowopati? Lalu bagaimana juga keterkaitan Radio Malowopati dengan LAPOR! atau mekanisme keluhan publik secara umum di Bojonegoro?

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendirikan Radio Malowopati pada tahun 2001 sebagai lembaga untuk pelayanan penyiaran publik. Salah satu tujuannya adalah untuk membantu mempercepat aliran informasi ke daerah-daerah terpencil. Untuk itu, Radio Malowopati secara konsisten selalu menyediakan konten penyiaran yang memungkinkan terjadinya dialog dua arah yang bersifat mingguan di antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan warga Bojonegoro. Program siaran di Radio Malowopati selalu melibatkan perwakilan yang relevan dari pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), atau instansi pemerintah daerah. Program-program di Radio Malowopati ini selalu diisi dengan konten-konten yang ditujukan baik untuk menyebarluaskan berita dari pemerintah daerah atau juga untuk merespon keluhan masyarakat.

Radio penyiaran publik Malowopati telah berhasil meraih perhatian masyarakat Bojonegoro dan membuat masyarakat Bojonegoro lebih tertarik untuk berinteraksi dengan pemerintahnya. Kunci suksesnya terletak pada pendekatan yang down-to-earth dan dikombinasikan dengan popularitas Kang Prabu, penyiar terkenal di Bojonegoro, yang menggunakan bahasa daerah (Bahasa Jawa) untuk menyiarkan berita dan interaksinya dengan masyarakat. Kang Prabu telah menjadi salah satu figur yang paling berpengaruh di Bojonegoro, popularitasnya bahkan mengakar hingga ke masyarakat yang tinggal di desa-desa terpencil. Kesuksesan Radio Malowopati juga didasari oleh dukungan yang kuat dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebagai alat pemerintah untuk terus meningkatkan upaya untuk menjangkau lebih banyak warganya, terutama di desa-desa.

Isi pesan teks yang dikirimkan masyarakat ke Radio Malowopati sangat beragam dan terkadang agak lucu awalnya. Bervariasi dari salam ke cerita kehidupan pribadi hingga permintaan lagu. Berawal dari interaksi tersebut, Radio Malowopati perlahan-lahan berkembang menjadi salah satu kanal penanganan keluhan Bojonegoro. Baru ketika Suyoto terpilih sebagai bupati baru Bojonegoro pada tahun 2008, Radio Malowopati secara resmi diakui sebagai salah satu kanal pengelolaan keluhan masyarakat. Keberlanjutan dari interaksi yang dibangun lewat Radio Malowopati inilah yang kemudian diintegrasikan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan LAPOR!. Kusnandaka, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Bojonegoro, mengawal proses pengintegrasian keluhan masyarakat yang disampaikan melalui Radio Malowopati ke LAPOR! sejak 2014.

Di sanalah kemudian kunci kesuksesan dari program LAPOR! di Bojonegoro. Bukan saja komitmen yang kuat dari para pejabat pemerintahan di Bojonegoro, namun juga kemauan untuk mengintegrasikan berbagai kanal ke dalam sistem pengelolaan LAPOR! dan mekanisme tindak lanjutnya. Karenanya, masyarakat Bojonegoro jadi memiliki beragam pilihan untuk dapat menyampaikan keluhannya tanpa harus khawatir mengenai tindak lanjut keluhan mereka.

Penggunaan radio di Bojonegoro adalah contoh yang baik dalam penelitian kami dari kebijakan pemerintah untuk memilih ‘teknologi yang tepat di tempat yang tepat’. Hal tersebut memberikan masyarakat bentuk komunikasi yang paling mereka sukai dan juga infrastruktur yang paling memadai di daerah tersebut.

###

Artikel ini merupakan cuplikan dan terjemahan dari hasil laporan Making All Voices Count dan Center for Innovation Policy and Governance (CIPG) dengan judulComplaining to Improve Governance: Four Stories of Complaint Handling Systems in Indonesia”. Hasil lengkap dari studi ini dapat diunduh di sini.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>