FacebookTwitterGoogle+EmailWhatsAppShare

Oleh : Faishal Muhammad –

Ko-Kreasi adalah hal yang sangat umum dilakukan dalam proses pengembangan produk, baik perbaikan dari produk yang lama maupun perancangan dari produk yang baru. Pada tingkat konsep, inti dari ko-kreasi adalah keterlibatan setiap elemen, terutama pengguna atau konsumen, dalam proses perancangannya.

Pada pelaksanannya, terdapat berbagai macam cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk ko-kreasi. Mayoritas perusahaan melakukan konsep ko-kreasinya dengan menyelenggarakan lokakarya dengan penggunanya, ada pula yang menggunakan platform digital untuk mengumpulkan ide-ide terbaru dari publik secara umum, dan berbagai macam cara lain. Dengan ko-kreasi banyak perusahaan telah mampu mengefisienkan kerja mereka dengan mengintegrasikan strategi pemasaran mereka dengan strategi pengembangan produk mereka. Inilah mengapa banyak dari jenis layanan dan produk inovatif kini, menempatkan masyarakat sebagai titik sentral pengembangan produk mereka.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari proses ko-kreasi yang berhasil dilaksanakan perusahaan:

  1. Insight Community – DeWalt

Cara paling sederhana melibatkan pengguna adalah duduk bersama dan berdiskusi terkait produk yang ditawarkan. Hal ini adalah yang dilakukan DeWalt, perusahaan power tools dari Amerika Serikat, untuk melibatkan pengguna dalam proses ko-kreasi. Platform yang digunakan untuk menegaskan komitmen DeWalt dalam proses ko-kreasi adalah Insight Community. Komunitas ini dibuat melibatkan pengguna, karyawan, dan partner perusahaan untuk berkolaborasi menciptakan inovasi produk.

  1. Parcelcopter – DHL

Inovasi terbaru dari DHL, perusahaan logistik asal Jerman, dalam teknik pengiriman barang adalah Parcelcopter 3.0. Ini adalah inovasi pengiriman menggunakan teknologi Drone yang dapat dikendalikan melalui jarak jauh. Waktu pengiriman dari satu gudang ke tempat tujuan yang tadinya 30 menit dapat dikurangi hingga 8 menit. Hal ini dapat tercapai dengan adanya ko-kreasi dari DHL dengan pengguna dan karyawan melalui customer engangement and workshop.

  1. Karma Cup – Starbucks

Salah satu cara unik yang dilakukan oleh Starbucks dalam proses ko-kreasi adalah Social Co-Creation Contest. Kegiatan ini merupakan sebuah kontes gerakan sosial sekaligus proses ko-kreasi untuk mengurangi dampak lingkungan dari gelas yang digunakan oleh Starbucks. Proses ko-kreasi sosial ini bersifat crowdsourcing dimana setiap pembeli dapat menyumbangkan idenya. Kontes ini menghasilkan gerakan Karma Cup yang memberikan 1 gelas kopi secara gratis setiap orang ke-10 yang menggunakan gelas reusable. Secara sederhana, ko-kreasi Starbucks dapat mengurangi dampak lingkungan melalui proses inovasi yang melibatkan pembelinya.

  1. Wella Shockwaves Co-Creation Channel – P&G

Contoh lain yang melibatkan pengguna dalam penyusunan strategi adalah P&G. Perusahaan FMCG ini mendorong pengguna untuk memberikan insight dan masukan melalui channel khusus yang telah dibuat. Pengguna dapat memberikan ide dan mendiskusikannya dengan perwakilan dari P&G. Banyak pengguna yang bergabung dalam channel ini hanya dalam waktu 4 hari. Channel ini menghasilkan ide ko-kreasi marketing yang biasa dibuat selama 12 bulan hanya dalam waktu 5 minggu.

  1. WINsiders4Good – Microsoft

Ko-kreasi dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, termasuk peningkatan kualitas dan kemampuan sumber daya manusia. Hal ini lah yang dilakukan oleh perusahaan teknologi ternama Microsoft di Nigeria. Kegiatan crowdsourcing dan mentoring dilakukan oleh karyawan Microsoft terhadap entrepreneur muda di Nigeria sebagai bentuk ko-kreasi peningkatan kualitas SDM. Dengan program ini, ko-kreasi dapat meningkatkan kreativitas dan daya saing suatu negara.

Variasi praktek ko-kreasi di perusahaan menunjukkan berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai satu tujuan bersama. Dari kelima contoh diatas, ko-kreasi dapat dilakukan meskipun dari berbagai macam latar belakang perusahaan. Perusahaan melibatkan berbagai pemegang kepentingan karena setiap elemen memiliki pengetahuan dan pengalamannya masing-masing.  Ko-kreasi pun dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang intinya melalui kerjasama dan kolaborasi. Proses ko-kreasi ini pun sudah menjadi proses yang sangat lumrah dan sering digunakan pada bidang swasta.

Kisah sukses ini seharusnya dapat mendorong semangat kolaborasi pada sektor-sektor lainnya, tidak terkecuali dalam pemerintahan. Alasannya sederhana, ada banyak kesamaan dari pola hubungan pemerintah dan masyarakat yang mirip dengan perusahaan dan konsumennya. Pelayanan publik adalah salah satu contohnya, di mana masyarakat memiliki posisi sebagai konsumen dan pemerintah sebagai penyedia layanan. Namun hal ini harus dilakukan secara serius. Pemerintah tidak bisa hanya menanyakan pendapat warga atau survey pelayanan publik saja, karena hal itu tidak menjawab keseluruhan permasalahan. Harus ada usaha yang lebih keras untuk bisa melibatkan masyarakat dalam menyederhanakan proses bisnis pelayanan publik.

Jika serius dan setiap elemen masyarakat dan pemerintah dapat berko-kreasi, dimana warga dapat dilibatkan secara aktif, maka semakin dekat langkah kita menuju pemerintahan yang terbuka.

###

Faishal Muhammad

Muka Firman

Faishal Muhammad adalah mahasiswa pasca-sarjana jurusan Teknik Industri di Universitas Indonesia. Faishal memiliki ketertarikan dalam bidang faktor manusia atau ergonomi, user experience, dan juga praktik pemerintahan di Indonesia. Saat ini Faishal sedang mengikuti program magang  batch XII di Sekretariat Nasional Open Government Indonesia. Sebelumnya Faishal aktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di Laboratorium Faktor Manusia, Universitas Indonesia. Artikel diatas merupakan tulisan yang dibuat atas studi literatur dan pendapat pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>