Open Government Week 2019: Simulasi ‘Suara dan Aksi Warga Negara’ Sebagai Program Akuntabilitas Sosial yang Inklusif

Share

Oleh : Bayu Zuhdi

Sesi bermain peran dalam Simulasi Suara dan Aksi Warga Negara.

Jakarta-Wahana Visi Indonesia (WVI) bekerjasama dengan Open Government Indonesia mengadakan seminar bertemakan “Simulasi ‘Suara dan Aksi Warga Negara’ Sebagai Program Akuntabilitas Sosial yang Inklusif” pada Senin, 12 Maret 2019. Acara yang digelar di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Open Government Week 2019. Dengan model simulasi Suara dan Aksi Warga Negara (Citizen Voice and Action/CVA), seminar ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan memperkenalkan bagaimana praktik akuntabilitas sosial terjadi di berbagai desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara ini diisi oleh salah satu fasilitator Suara dan Aksi Warga dari WVI di Nusa Tenggara Timur, Edmundus Mordhekai Lalong, beserta salah satu fasilitator lokal yang berasal dari Desa Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, Ibu Diana.

CVA sendiri merupakan metode advokasi di tingkat lokal yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dasar dengan cara meningkatkan hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Secara umum, CVA memuat tiga aspek utama yakni partisipasi masyarakat (community engagement); pertemuan masyarakat (community gathering) dan pengisian kartu penilaian (score card). Salah satu poin penting dari CVA adalah meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan dengan cara ikut serta dalam pembuatan kebijakan, yang tertuang dalam pendidikan masyarakat tentang sistem politik dan pemerintahan yang nantinya akan mereka diseminasi melalui CVA. Menurut WVI, per September 2011, CVA sudah dipraktikan di 29 negara.

Acara diawali dengan beberapa rangkaian sambutan yang dimulai oleh Candra Wijaya Direktur Eksekutif WVI yang menyampaikan bahwa pelaksanaan CVA mendapatkan tanggapan positif setelah dilaksanakan di NTT dan pada kesempatan tersebut ingin dibagikan kepada stakeholders di Jakarta. Selain itu sambutan juga diberikan oleh Taufiq Hidayat Putra selaku Staf Perencanaan Bappenas yang membagikan pengalaman Bappenas tentang praktik alternative development di Aceh yang menggunakan teknologi aplikasi telepon pintar bernama Eragano untuk mendorong petani ganja beralih menanam tanaman lain yang bernilai ekonomis. Pada sambutan terakhir, Ulfah Fatmala Rizky sebagai staff Open Government Indonesia menyatakan pentingnya kolaborasi stakeholders seperti pemerintah, organisasi masyarakat sipil, swasta, dan masyarakat luas untuk turut serta dalam penyelenggaraan pemerintah terbuka. Kolaborasi tersebut dapat kita temui di CVA sebagai salah satu aksi dari komitmen Partisipasi Masyarakat dan Perencanaan Desa dalam Renaksi Open Government Indonesia.

Di dalam simulasi tersebut, peserta yang terdiri dari berbagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) diajak untuk ikut merasakan bagaimana Suara dan Aksi Warga terjadi dengan melakukan bermain peran. Beberapa peserta diajak untuk naik ke atas panggung untuk berperan menjadi Kepala Desa, Staff Kesehatan, dan Badan Perwakilan Desa. Pada rangkaian kegiatan tersebut, para hadirin lain juga diajak untuk berpartisipasi dengan memberikan masukan dan tanggapan untuk isu yang harus diangkat pada simulasi Suara dan Aksi Warga tersebut. Akhirnya, peserta seminar yang bermain peran sebagai masyarakat antusias untuk memberikan tanggapan dan suara mereka baik dalam pemilihan isu ataupun pembuatan rencana aksi yang nantinya dapat ditindaklanjuti di proses pembangunan yang lebih tinggi.

Dengan adanya seminar ini, diharapkan dampak baik dari CVA dapat dirasakan di daerah-daerah lain di Indonesia untuk pembangunan bottom-up yang lebih baik. Selain itu, diharapkan juga CVA dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat, pemerintah, maupun organisasi masyarakat sipil lainnya di Indonesia.

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of