Yang Muda Yang Terlibat : Peran Generasi Muda dalam Keterbukaan Anggaran dan Pemilu

Share

Oleh: Putu Lumina Mentari dan Gita Ayu Maharani

Salah satu tema besar Open Government Week dan Open Government Partnership (OGP) tahun ini adalah Youth atau anak muda, tahun ini terdapat berbagai acara yang berfokus pada isu-isu anak muda, dari pengembangan literasi anggaran untuk masyarakat yang dimulai dari anak muda khususnya para mahasiswa, hingga keterlibatan anak muda dalam pemilu 2019.

Rangkaian pertama dari kegiatan Open Government Week adalah roadshow literasi anggaran oleh Seknas Fitra bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, Ford Foundation dan Seknas OGI di kampus UMJ dan PKN STAN. Dalam roadshow literasi anggaran kali ini, berbagai narasumber terlibat, diantaranya dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Seknas FITRA, Perwakilan Kampus yang terlibat, Seknas OGI, dan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP).

Dari Gerakan Literasi anggaran ini, diharapkan masyarakat yang dimulai dari mahasiswa, tidak hanya mengetahui rincian anggaran negara seperti APBN atau APBD, tetapi juga bisa memahami, menganalisis dan mampu untuk mengadvokasi untuk anggaran pemerintah yang lebih efektif dan tepat sasaran. Mahasiswa yang hadir diberikan pemahaman mengenai cara anggaran negara bekerja mulai dari filosofi anggaran, beberapa istilah teknis, sampai pemanfaatan data anggaran untuk publik. Selain memahami anggaran negara, kegiatan ini juga mendorong semangat transparansi dan partisipasi masyarakat dalam dalam mengawal dan mengadvokasi anggaran negara.

Roadshow Literasi Anggaran pertama dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Berfokus pada pentingnya peran keterbukaan anggaran kampus, mahasiswa diharapkan bisa memahami hal-hal terkait keuangan kampus, dan juga dapat memberikan partisipasi aktif mereka dalam mengkritisi anggaran kampus. Literasi anggaran mengenai anggaran kampus ini penting, karena nantinya, mahasiswa yang nantinya masuk di dunia kerja diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam memberikan masukan untuk anggaran negara yang lebih efisien.

Selain dilaksanakan di UMJ, Acara Literasi Anggaran ini juga dilakukan di Politeknik Keuangan Negara  Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN), Tangerang. Acara ini berfokus pada pembahasan mengenai efektifitas anggaran khususnya dalam bidang pembangunan. Pemerintah pusat dan daerah harus bisa menentukan prioritas utama pembangunan yang nantinya akan menentukan bagaimana penggunaan anggaran. Partisipasi publik dalam mendukung prioritas pembangunan menjadi sangat penting agar penggunaan anggaran bisa tepat sasaran, karena yang pada akhirnya publik yang paling memahami apa yang mereka butuhkan dan yang paling merasakan dampak dari pembangunan tersebut.  Pemerintah baik dipusat dan didaerah harus lebih mengedepankan aspek keterbukaan dalam aksesibilitas data dan partisipasi publik.

Kegiatan ini juga menjelaskan bagaimana birokrasi di Indonesia ada di keadaan yang kurang baik dan memiliki banyak masalah. Salah satu masalah dibahas adalah keterbukaan anggaran biaya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang masih rendah padahal anggaran biaya ini menghabiskan hampir 25% dari APBN. Dengan rendahnya keterbukaan data anggaran tersebut, masalah seperti korupsi atau jual beli jabatan banyak terjadi dimana mana. Oleh karena itu, keterbukaan data anggaran dibutuhkan untuk meminimalisasi masalah-masalah tersebut. Selain untuk meminimalisasi masalah yang ada, khususnya mengenai partisipasi publik, peran mahasiswa dan institusi pendidikan dianggap penting sebagai think tank dan kontributor kebijakan pemerintah kedepannya.

Rangkaian Open Government Week kemarin tidak hanya mengedepankan keterbukaan data anggaran dan keterlibatan publik tetapi juga menitikberatkan kepada keterlibatan pemuda dalam berpolitik. Salah satunya adalah acara Youth Gathering oleh beberapa komunitas muda untuk Pemilu 2019 April nanti. Beberapa komunitas muda turut meramaikan acara tersebut diantaranya adalah Perludem, Turun Tangan, Forum Indonesia Muda Regional Jakarta, Young Coalition for Girls, LISUMA Gunadarma, dan banyak lagi.

Sesi pertama dalam acara ini adalah paparan dari salah satu perwakilan Perludem mengenai pentingnya peran generasi muda di Pemilu 2019. Golongan pemuda membentuk jumlah pemilih lebih dari 40 juta jiwa. Meskipun generasi muda memiliki pengaruh yang besar dalam politik Indonesia, nyatanya, hal ini tidak sejalan dengan calon legislatif (caleg) muda DPR tahun 2019 yang hanya 11% dari total caleg keseluruhan.

Lebih lanjut, keberadaan generasi muda dalam pemilu 2019 masih berupa ‘tokenism’ dimana pemuda hanya dianggap sekedar target audiens para caleg, tetapi belum ada pelibatan secara langsung generasi muda dalam berbagai kegiatan pemerintah. Selain ‘tokenism’, generasi muda juga masih identik dengan stigma apatis terhadap politik padahal tidak sedikit generasi muda yang peduli tentang politik. Maka dari itu perludem bersama komunitas politik pemuda lainnya ingin mengajak lebih banyak generasi muda untuk peduli tentang politik melewati website https://pintarmemilih.id/.  Melalui website https://pintarmemilih.id/, generasi muda dapat mengetahui profil caleg  yang ada di berbagai daerah dan berbagai informasi mengenai pemilu di Indonesia.

Acara utama kegiatan ini adalah diskusi mengenai isu-isu generasi muda yang dibagi menjadi empat klaster yaitu, politik, ekonomi, budaya, dan sosial. Dari berbagai isu-isu yang diutarakan oleh komunitas-komunitas muda, dalam klaster politik, poin yang menjadi prioritas adalah edukasi politik dan kewarganegaran dan partisipasi muda di politik. Sedangkan di klaster ekonomi poin yang diprioritaskan adalah hal ketenagakerjaan dan kewirausahaan. Di klaster budaya, poin prioritasnya adalah diskriminasi dan isu-isu seksualitas. Terakhir, di klaster sosial, pendidikan dan kesehatan jasmani dan rohani menjadi poin utama prioritas peserta. Nantinya, pemetaan prioritas ini akan dikirim kepada KPU untuk disampaikan kepada caleg dan capres tahun ini.

Pemuda sebagai agent of change sangat penting pelibatannya dalam pemerintah, karena nantinya merekalah yang akan menjadi pemimpin masa depan bangsa. Untuk itu, memberikan pembekalan yang baik mengenai pemerintahan dan wadah dimana aspirasi mereka tidak hanya didengar namun juga ditindaklanjuti menjadi awal untuk membina hubungan antara pemuda dan pemuda. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak kegiatan yang melibatkan pemuda dalam Open Government Week selanjutnya.

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of